jump to navigation

JENDELA MIMPI

Mimpi tampaknya menjadi kekuatan yang sakral. Semangatnya hampir sama dengan sebuah harapan. Mimpi tak hanya sebatas di alam bawah sadar, tapi juga di alam sadar. Sejumlah fotografer mengabadikan mimpi itu dalam fotografi bertajuk “Indonesia Dreams” di Erasmus Huis, Jakarta, pada 29 Februari hingga 28 Maret mendatang.

Banyak hal yang mereka potret lewat jendela lensa mereka. Fotografer Angki Purbandono memotret sepasang mata orang gila dalam karyanya yang berjudul Madness. Banyak cerita tragis mungkin tersembunyi di balik tatapan kosong itu yang seolah menjadi gambaran sisi gelap kehidupan sosial negeri ini.

Bahtiar Dwi Susanto menyuguhkan sebuah upacara pernikahan tradisional. Karya berjudul Doa Restu ini mengabadikan rincian peristiwa dan tata cara adat yang nantinya bakal menjadi kenangan indah kepada anak cucu.

Masih bertema sama, Krisna Satmoko mengabadikan sisi yang berbeda. Ia memamerkan jepretan sepasang pengantin baru dalam beragam situasi, misalnya berboncengan Vespa tua, merayu di bawah hujan, dan menemani memperbaiki mobil. Enam bingkai foto itu diberi nama Baru Kawin.

Mimpi-mimpi orang kota menjadi tema para juru bidik Gustaff Harriman, Adhya Ranadireska, dan Ahmad Deny Salman. Inilah ciri masyarakat kontemporer. Adhya memberi judul Pesta pada 15 frame karyanya, sedangkan Ahmad Deny mengemas hiruk-pikuk kehidupan malam dengan potongan-potongan foto di diskotek secara audio-visual. Adapun Gustaff merangkum tema yang sama dengan judul Jeruji at Alkateri.

Foto-foto itu tampak kontras dengan serial karya yang diusung Tino Djumini dalam tajuk Bumi di Bawah Kakiku. Rangkaian foto ini mengisahkan hidup kaum papa dan anak-anak miskin kota. Sesekali mereka berlari riang di antara semak atau termangu di pinggir kali di belakang deretan rumah kumuh.

Malahayati dalam fotonya yang bertajuk Jilbab memotret sebuah toko yang memajang (menjual) jilbab, lengkap dengan penjualnya yang tak berjilbab. Ia seperti ingin mengatakan bahwa penutup kepala kaum muslimah ini menjadi sesuatu yang modis serta barang ekonomi yang potensial dengan rancangan warni-warni.

Ada pula yang memotret dunia wayang. Itu dilakukan Stefanny Imelda. Pameran ini juga menghadirkan karya-karya Erik Prasetya, Mohamad Iqbal, Firman Ichsan, Yonas Studio, Stefanny Imelda, dan Evelyn Pritt. Dalam pameran ini, foto-foto yang dipampang umumnya sederhana dan mudah dicerna. Meski karya-karya yang ditampilkan terkesan tak ada “tantangan” dan biasa-biasa saja, tema yang diambil cukup unik dan menarik.

Kurator pameran, Rifky Effendy dan Tino Djumini, menilai foto-foto yang dipamerkan merupakan gambaran yang dialami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dengan beragam perubahan. Citra orang Indonesia mungkin juga menjadi seperti alam fotografi, yang memancarkan dunia paradoks.

“Kami sengaja memilih sebuah pendekatan fotografi untuk melihat langkah apa saja yang diambil orang Indonesia modern untuk memasuki globalisasi dan menemukan identitasnya,” kata mereka dalam katalog pameran

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: